•   25 May 2024 -

Sejarah Bontang dan Asal Usul Rawa Indah

History - Redaksi
05 Maret 2023
Sejarah Bontang dan Asal Usul Rawa Indah Situasi Pasar Rawa Indah 1986/Ist

KLIKKALTIM.COM- Sejarah Kota Bontang hingga saat ini belum dibukukan secara resmi. Masih banyak versi asal usul kota yang kini dihuni 180 ribu penduduk ini. Salah satu wilayah di Bontang yakni Rawa Indah, di Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kecamatan Bontang Selatan

Iskandar masih berusia 21 tahun, ketika memutuskan merantau ke Bontang dari kampungnya di Sulawesi Selatan, medio 1977 lalu. 

Di Bontang, Iskandar muda, menetap di Desa Berbas Ujung. Di sini ia mengais rejeki dengan berjualan kain, bersama ratusan pedagang lainnya dari perantau Bugis. 

Desa Berbas Ujung, kala itu pusat niaga terbesar di Kota Bontang. Berbatasan dengan wilayah industri milik Badak LNG, pedagang dan warga menghuni rumah-rumah di atas air. 

Iskandar yang mulai betah diuji, musibah kebakaran besar meluluhlantakkan seluruh dagangannya sekitar 1980. Selepas musibah, warga dan pedagang kembali bangkit. 

Perlahan masyarakat membangun kembali lapak dan bisnis mereka. Tiga tahun berselang, kebakaran kembali terjadi. Ratusan kios pedagang dan pemukiman masyarakat habis dilalap si jago merah, medio 1983.  

"Sebelumnya seluruh pedagang di Pasar Rawa Indah berada di Berbas Ujung," ucap Iskandar saat ditemui Klikkaltim.com, Minggu (21/11/2021). 

PT Badak LNG saat itu menawarkan agar pedagang dan warga pindah ke lahan mereka. Lahan pasang surut di wilayah pesisir. 

Klik Juga : Sejarah Lang-Lang, Bekas Kuburan & Lapangan Bola Kampung Sejak 1950an

Tahun berjalan, namun warga urung berpindah ke lokasi baru. Badak LNG kala itu, khawatir aktivitas masyarakat di sekitar industri mereka bisa berbahaya. 

Setelah negosiasi panjang, 1986 Badak LNG menyatakan, selain mendirikan pasar, juga akan memberikan lahan bagi korban kebakaran. 

Tiap korban kebakaran mendapatkan kupon, kupon inilah yang menjadi dokumen kepemilikan bagi tiap warga. 

Perusahaan membuka lahan juga membangun jalan. Wilayah yang mulanya pasang surut itu kini di kenal Rawa Indah, sesuai namanya wilayah rawa-rawa yang ditimbun tanah urukan. 

"Sebelumnya Perusahaan memberikan fasilitas jalan dan bangunan los pedagang untuk berjualan," terangnya. 

Tanah Hasil Pembagian 

Warga korban kebakaran perlahan mulai menghuni tanah baru itu. Penamaan Rawa Indah itu diambil dari kondisi sebelumnya, lahan bertani dan wilayah serapan air.

"Karena ini dulu wilayah rawa makanya disebut Rawa Indah," terang mantan Ketua RW Rawa Indah 13 tahun ini. 

Klik Juga : Onder Van Distrik Bontang; Penamaan Belanda dalam Sejarah Bontang

Korban kebakaran Berbas kala itu menerima sebidang tanah dengan luasan 12,5 X 16 meter tiap kepala keluarga. Bukan hanya pemilik lapak saja, penyewa di Pasar Berbas Ujung, juga kecipratan rejeki mereka ikut menerima sebidang tanah. 

Setahun berselang, tepatnya 1987 relokasi tahap dua dilakukan oleh PT Badak LNG dengan menimbun lahan untuk pemukiman yang lokasinya tidak jauh dari Rawa Indah. 

Lokasi itu bernama Bukit Indah. Namun proses relokasi bukan didasari oleh terjadinya bencana kebakaran besar. Namun murni permintaan PT Badak LNG

"Saat itu memang giatnya proses relokasi pemukiman karena tempat terdahulu sangat berdekatan dengan kawasan industri. Untuk itu perusahaan mencarikan lahan alternatif," ucap pria berumur 65 tahun itu.

Akrab dengan Banjir Rob

Karena merupakan daerah timbunan. Masyarakat Rawa Indah sejak dulu sudah akrab dengan genangan air akibat pasang surut air laut. 

Masyarakat tidak protes, karena mereka tinggal di daerah pasang surut yang diubah jadi pemukiman. 

Klik Juga : Kisah Lok Tuan; Berawal dari Perusahaan Kayu & Kota Romawi Kuno

Iskandar menuturkan, waktu itu memang belum ada aturan tata kelola wilayah yang mengharuskan memilih lokasi tempat tinggal dengan menimbun. 

"Udah dari dulu kalau banjir menggenangi wilayah Rawa Indah. Karena kan dekat dengan laut," terangnya. 

Tetapi, saat itu pembangunan pemukiman warga didirikan dengan rumah panggung. Banjir selalu ada, tapi hunian mereka bebas dari genangan air. 

*Tulisan ini sangat minim dukungan literasi, hasil karya didasarkan dari wawancara tunggal narasumber yang redaksi pilih. 




TINGGALKAN KOMENTAR