DKP3 Bantah Tebang Pilih, Ini Alasan Solar Subsidi Nelayan Bontang Dikurangi
Stok solar subsidi di SPBN Tanjung Limau. (dok)
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang akhirnya angkat bicara ihwal kuota BBM subsidi jenis solar untuk nelayan yang dibatasi sejak sepekan terakhir karena pasokan tidak tersedia.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang, Syamsu Wardi, mengatakan, berdasarkan catatannya, SPBN Tanjung Limau sempat tidak menjual solar subsidi sejak Sabtu (24/10) hingga Selasa (27/10) kemarin.
Akibatnya, permintaan kebutuhan BBM subsidi nelayan mencapai 28 ton. Sementara itu, pasokan solar subsidi harian yang diterima SPBN Tanjung Limau baru kembali tersedia pada Rabu (28/10) kemarin dengan jumlah hanya 8 ton.
Akibatnya, daftar tunggu pembelian nelayan masih menyisakan kekurangan 20 ton. Alhasil, DKP3 mengambil inisiatif meminta kesepakatan nelayan untuk memprioritaskan pembelian bagi kapal yang sudah bersandar sejak 24 Oktober.
Kesepakatan pengurangan kuota pun disetujui seluruh nelayan. Alhasil, pada Rabu (28/10) kemarin, pembelian bisa disalurkan dengan pembatasan. Untuk kapal besar, jatah dikurangi menjadi 300 liter dari kuota sebelumnya 600 liter.
Pembatasan juga berlaku bagi kapal kecil. Ada yang dibatasi 200 liter, bahkan hanya bisa mendapatkan 120 liter untuk pembelian hari itu.
"Kalau dibiarkan bisa baku hantam nelayan. Jadi kami ambil langkah antre sesuai jadwal sandar awal. Kemudian stoknya dibagi atas kesepakatan. Saat ini masih minus 20 kiloliter," ucap Syamsu Wardi.
Lebih lanjut, pemerintah saat ini sedang melakukan perbaikan data untuk mengkurasi sekitar 400 data kapal yang menerima pasokan BBM subsidi jenis solar.
Dari informasi yang diterima Klik Kaltim, kuota BBM nelayan Bontang per bulan mencapai 192 kiloliter atau 192.000 liter. Kuota harian SPBN biasanya menerima 8.000 liter yang harus didistribusikan kepada 400 kapal sesuai spesifikasinya.
Untuk jatah per kapal, Pemkot Bontang hanya menerima kalkulasi yang dikeluarkan melalui sistem Kementerian ESDM. Setelah nelayan menginput data, barulah kuota harian atau per trip berlayar bisa diketahui.
"Kuota berbeda. Di sistem XStar milik ESDM. Tapi kalau mengikuti jatah aplikasi, kuota kita juga tidak cukup," sambungnya.
Diberitakan sebelumnya, nelayan di Kota Bontang mengeluhkan berkurangnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar pada Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat nelayan harus mengurangi radius tangkapan ikan karena keterbatasan bahan bakar.
Salah seorang nelayan mengatakan, biasanya ia bisa mendapatkan 150 liter solar per hari untuk kapal dompeng bermesin 24 PK. Namun, dalam beberapa hari terakhir, jumlah yang bisa dibeli hanya 120 liter. Bahkan, ia terkadang tidak mendapatkan solar karena stok telah habis.
“Makin susah kami dapat BBM solar. Padahal dokumen ada. Tapi kuota dikurangi. Alasannya biar adil. Masalahnya kapal besar itu dapat banyak. Kami yang kapal kecil justru dipangkas,” ucapnya, Selasa (27/10/2026). (*)
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: