•   02 August 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Senjakala Lembuswana; Pedagang Menjerit Bayar Sewa, Pengunjung Kian Sepi

Kaltim - Redaksi
01 Agustus 2026
 
Senjakala Lembuswana; Pedagang Menjerit Bayar Sewa, Pengunjung Kian Sepi Mal Lembuswana kini tak seramai dulu. Banyak pedagang yang mulai menutup gerainya imbas dari sepinya pengunjung.

KLIKKALTIM- Pergantian pengelola Mal Lembuswana Samarinda mulai menjadi perhatian para penyewa gerai.

Pelaku usaha berharap pengelola baru dapat memberikan kebijakan yang lebih ringan, terutama terkait biaya sewa dan upaya menarik kembali pengunjung yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan.

Mal Lembuswana diketahui akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, PT Kaltim Melati Bhakti Satya (PT KMBS). Pengelola baru tersebut menggantikan PT Cipta Sumena Indah Satresna (PT CSIS) yang masa kerja samanya berakhir pada 26 Juli 2026.

Hartati (36), pemilik Butik Simanis Madu, berharap perubahan pengelola membawa perbaikan bagi para pelaku usaha yang masih bertahan di pusat perbelanjaan tersebut.

Ia mengaku kondisi penjualan saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, penurunan pengunjung semakin terasa sejak awal 2026 setelah muncul informasi mengenai rencana penutupan Mal Lembuswana yang beredar di media sosial.

“Sekarang sudah sangat turun. Kadang ada pembeli datang yang bertanya, benar tidak mal ini mau ditutup. Itu cukup berpengaruh karena orang jadi ragu datang,” ujar Hartati saat diwawancarai KlikKaltim (1/8/2026).

Hartati yang telah berjualan pakaian muslimah di Mal Lembuswana sejak 2013 mengatakan, sebelum kondisi saat ini, omzet tokonya masih bisa mencapai sekitar Rp46 juta per bulan. Namun kini pendapatan hanya berada di kisaran setengahnya.

“Sekarang sekitar Rp24 juta saja, itu belum dipotong sewa, listrik, barang, dan biaya lainnya,” katanya.

Menurut Hartati, kondisi penurunan omzet tersebut tidak sejalan dengan beban operasional yang tetap harus dibayarkan penuh. Ia menyebut biaya sewa kios yang ditempatinya mencapai sekitar Rp11,3 juta per bulan, belum termasuk tagihan listrik sekitar Rp500 ribu.

Selain biaya sewa, ia juga mengeluhkan penerapan denda keterlambatan pembayaran yang dinilai memberatkan penyewa.

“Kalau lewat tanggal jatuh tempo tanggal 15, dendanya 11 persen. Dalam kondisi seperti sekarang, seharusnya ada kebijakan dan toleransi,” ujarnya.

Ia berharap pengelola baru dapat lebih memperhatikan kondisi para tenant, termasuk menghadirkan berbagai kegiatan yang mampu menarik masyarakat kembali datang ke Mal Lembuswana.

“Semoga nanti pengelola baru lebih bijaksana, sering mengadakan event agar pengunjung kembali ramai. Kalau mal ramai, penjual juga ikut terbantu,” pintanya.

Selain persoalan sewa, Hartati juga meminta sejumlah fasilitas di dalam mal ikut diperbaiki. Ia menyebut beberapa fasilitas seperti eskalator, pendingin ruangan, hingga penerangan masih menjadi keluhan pengunjung maupun penyewa.

“Harapannya fasilitas diperbaiki supaya masyarakat nyaman datang lagi,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan Rahman, penjaga salah satu lapak Aibo di Mal Lembuswana. 

Ia mengatakan penurunan penjualan terasa cukup drastis sepanjang 2026.

“Kalau dibandingkan Covid masih lumayan. Tapi tahun ini turunnya terasa sekali,” ujarnya.

Rahman yang menjaga lapak sejak 2018 menyebut biaya sewa tempat usahanya mencapai sekitar Rp17 juta. 

Ia berharap pengelola baru dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi mal, mulai dari fasilitas hingga kenyamanan pengunjung.

“Semoga ke depan lebih baik, diperhatikan lagi kondisi mal. AC, eskalator, penerangan juga perlu dibenahi,” demikian Rahman.






TINGGALKAN KOMENTAR