•   23 August 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Mulawarman, Gang Arumbia 1, Kelurahan Bontang Baru,
Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Cadangan Mulai Kritis; Pengoperasian Air Kolam Tambang Masih Menggantung

Bontang - M Rifki
22 Agustus 2026
 
Cadangan Mulai Kritis; Pengoperasian Air Kolam Tambang Masih Menggantung Offtake Kelurahan Gunung Telihan untuk penampungan air bekas lubang tambang (Klik Kaltim).

BONTANG – Rencana distribusi air bekas lubang tambang milik PT Indominco Mandiri (IMM) masih menggantung. Pengoperasian tersebut disinyalir menjadi pertama kalinya Bontang menggunakan sumber air bersih dari permukaan.

Kepala Bidang Sanitasi, Air Minum, dan Sumber Daya Air Dinas PUPRK Bontang, Edi Suprapto, mengatakan kewenangan pengoperasian berada di tangan Pemprov Kaltim.

Pemerintah Kota Bontang hanya menyiapkan offtake atau tempat penampungan dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional yang terletak di Kilometer 10 poros Bontang-Samarinda.

“Infrastruktur kami sudah siap. Kami menunggu dari SPAM Regional. Mereka yang menetapkan waktunya,” ucap Edi.

Lebih lanjut, pemanfaatan air bekas lubang tambang ini dapat mengurangi ketergantungan Bontang terhadap sumber air bawah tanah.

Diketahui, lubang bekas tambang tersebut memiliki kapasitas tampung hingga 21 juta meter kubik. Dengan begitu, pemenuhan kebutuhan air bersih Bontang diharapkan bisa sedikit terbantu. Terlebih, saat ini defisit pasokan air bersih sudah mencapai sekitar 150 liter per detik.

“Ini pemanfaatan yang menjadi alternatif paling cepat,” sambungnya.

Sebelumnya diberitakan, Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Taman mencatat saat ini total 25 ribu pelanggan terdampak distribusi air bersih secara bergiliran.

Direktur Perumdam Tirta Taman, Suramin, mengatakan sistem distribusi secara bergilir harus diterapkan karena pasokan air bawah tanah semakin menyusut.

Perumdam Tirta Taman sudah menerapkan sistem tersebut di dua Water Treatment Plant (WTP), di antaranya WTP Altra dan WTP di Kecamatan Bontang Barat.

“Sementara dua WTP ini, Bang. Ini karena kemarau. Air produksi bawah tanah jadi terbatas. Penurunannya 50 persen. Banyak sekali,” ucap Suramin.

Lebih lanjut, Suramin menjelaskan potensi penerapan sistem distribusi bergilir akan diperluas. Mengingat hingga Jumat (21/8/2026), hujan belum juga turun.






TINGGALKAN KOMENTAR