Prevalensi Stunting di Bontang Turun Jadi 14,05 Persen, 100 Balita Keluar dari Daftar Penderita
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat meninjau pelaksanaan operasi timbang.
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mengklaim berhasil menekan angka stunting. Berdasarkan hasil penimbangan serentak pada Juni 2026, sekitar 100 balita berhasil keluar dari daftar penderita.
Kini data prevalensi stunting di Bontang di angka 14,05 persen atau 1.389 balita. Angka tersebut turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 17 persen atau 1.489 balita.
Wali Kota Bontang, Neni Moernaeni, mengatakan data terbaru tersebut diperoleh dari hasil operasi timbang serentak yang berlangsung selama lima hari pada Juni 2026 dengan melibatkan 9.884 balita.
Kendati terjadi penurunan, Neni mengakui angka prevalensi stunting Bontang masih berada di atas target nasional yang berada di bawah 10 persen.
"Masih jauh dari target. Tapi dalam waktu 3 tahun ke depan, target itu bisa dicapai jika skema saat ini tetap dirawat," ucap Neni.
Menurutnya, penurunan prevalensi sekitar tiga persen dalam setahun dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya balita yang telah melewati usia lima tahun serta intervensi pemerintah melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan berbagai upaya pemenuhan gizi.
" Intervensi Pemkot selama setahu ini menjadi faktor penurunan angka prevalensi stunting," ucapnya.
Dari data yang dimilili Klik Kaltim, masih terdapat sejumlah wilayah yang memiliki angka prevalensi stunting cukup tinggi. Antara lain, Tanjung Laut Indah, Bontang Lestari, dan Berbas Pantai.
Neni meminta kader posyandu, ketua RT, hingga pemerintah kelurahan di wilayah tersebut lebih aktif melakukan pendampingan dan intervensi.
"Tiga wilayah ini prevalensinya paling tinggi. Kader, ketua RT, dan kelurahan harus memaksimalkan intervensi," tegasnya. (*)
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: