1.595 Hektar Lahan Terbakar di Kaltim; 2 Kabupaten Ini Paling Tinggi Kasus Karhutla
Ribuan hotspot terdeteksi satelit
KLIKKALTIM – Luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur terus bertambah. Hingga 26 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat 547 kejadian karhutla dengan total area terdampak mencapai 1.595,81 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan menjelaskan peningkatan kasus kembali terjadi setelah tren kebakaran sempat menurun pada pekan sebelumnya. Kondisi kemarau yang masih berlangsung membuat potensi munculnya titik kebakaran semakin tinggi.
“Memang sempat turun pada 19, 20, dan 21 Agustus. Tapi sekarang naik lagi, artinya trennya mulai meningkat,” ujar Buyung, Kamis (27/8/2026).
Dari catatan BPBD, periode Agustus menjadi penyumbang terbesar kasus karhutla tahun ini. Dalam rentang 1 hingga 26 Agustus saja, tercatat 422 kejadian dengan luas terdampak mencapai 1.362,59 hektare.
Sementara sejak Januari hingga Juli 2026, jumlah kejadian tercatat sebanyak 125 kasus dengan luas terdampak 233,23 hektare.
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. BPBD mencatat area terdampak di Kukar mencapai 480,38 hektare dari 53 kejadian.
Kemudian Kutai Barat (Kubar) berada di posisi kedua dengan luasan 383,67 hektare dari 77 kejadian, sedangkan Paser mencatat 358,93 hektare dari 151 kejadian.
Berbeda dengan luasan, jumlah kejadian terbanyak justru terjadi di Paser. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya frekuensi kebakaran tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar.
“Kalau kejadian paling banyak memang Paser. Tetapi untuk luasan, Kukar yang terbesar karena sudah mencapai 400 hektare lebih,” kata Buyung.
Sementara daerah lain yang terdampak yakni Samarinda dengan luas 126,26 hektare dari 91 kejadian, Berau 102,94 hektare, Kutai Timur 57,75 hektare, Penajam Paser Utara 51,54 hektare, Balikpapan 14,74 hektare, Bontang 13,51 hektare, dan Mahakam Ulu 6,10 hektare.
Berdasarkan jenis wilayah, sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan lahan dengan luas mencapai 1.541,76 hektare. Sedangkan kawasan hutan yang terdampak seluas 33,34 hektare dan perkebunan 30,71 hektare.
Salah satu lokasi yang masih mendapat perhatian BPBD yaitu daerah yang berada di wilayah Pendingin, Kutai Kartanegara. Api kembali muncul setelah sebelumnya dilakukan pemadaman.
“Pendingin masih terbakar lagi. Kemarin sudah dipadamkan, tetapi kembali muncul sehingga tim kembali kami kirim ke lokasi,” jelasnya.
Buyung menyebut penyebab kebakaran masih ditelusuri. Namun, pihaknya menduga sebagian kejadian dapat dipicu oleh aktivitas manusia, baik karena kelalaian maupun pembakaran yang tidak sesuai aturan.
Selain itu, kondisi tanah dan vegetasi yang kering membuat api lebih mudah menjalar. Bahkan lokasi yang sudah dipadamkan masih berpotensi terbakar kembali akibat bara yang tersisa.
“Dalam kondisi kering seperti sekarang, bara kecil saja bisa kembali menyala,” tegasnya.
Data BPBD juga mencatat bahwa saat ini ada sekitar 14 ribu titik panas (hotspot) yang terpantau satelit di wilayah Kaltim. Namun, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah kebakaran.
Buyung menegaskan hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu yang harus diperiksa langsung di lapangan.
“Hotspot bukan berarti titik api. Itu masih harus divalidasi karena bisa disebabkan banyak hal,” katanya.
Ia menjelaskan, anomali suhu dapat muncul akibat berbagai aktivitas, seperti kebakaran, pembakaran, pantulan panas benda tertentu, hingga aktivitas di kawasan pertambangan.
Dalam proses pemadaman, BPBD masih menghadapi kendala berupa sulitnya akses menuju lokasi serta keterbatasan sumber air. Beberapa titik kebakaran berada di wilayah dengan kondisi medan yang menyulitkan kendaraan pemadam masuk.
Buyung mengatakan, pemerintah perlu menyiapkan sumber air pendukung agar penanganan karhutla lebih cepat dilakukan saat musim kering.
“Kalau sumber air sulit dan kendaraan tidak bisa masuk, penanganannya menjadi lebih berat,” tuturnya.
Terakhir Buyung mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar selama musim kemarau. Pencegahan dinilai menjadi langkah utama untuk menekan peningkatan karhutla.
“Penanganan ini bukan hanya tugas BPBD, tapi perlu keterlibatan semua pihak agar kebakaran tidak semakin meluas,” demikian Buyung.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: