Neni Sentil SPPG Bontang yang Tertutup Soal MBG: Giliran Berkasus, Pemkot yang Turun Tangan
Wali Kota Bontang Neni Moernaeni. (Klik Kaltim)
BONTANG – Wali Kota Bontang Neni Moernaeni menyentil pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Regional Bontang yang dinilai tertutup soal informasi pengelolaan dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Sorotan itu mencuat setelah hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang menemukan bakteri patogen pada sampel makanan MBG yang menyebabkan 27 orang mengalami mual dan muntah.
Kepada Klik Kaltim, Neni menilai pengelola SPPG semestinya rutin memberikan informasi kepada pemerintah daerah, termasuk terkait jumlah dapur yang beroperasi maupun yang akan dibuka.
Menurutnya, keterbukaan informasi diperlukan agar Pemkot Bontang bisa mengetahui kondisi pelaksanaan MBG dan segera mengambil langkah jika terjadi persoalan.
"Sekarang mana ada, dek, mereka informasi ke kami berapa total jumlah dapur yang beroperasi. Kemudian yang akan beroperasi berapa. Terus kalau ada kasus seperti ini, Pemkot Bontang yang harus turun tangan," ucap Neni kepada Klik Kaltim.
Neni juga menyoroti kapasitas produksi setiap dapur SPPG. Ia meminta jumlah porsi yang diproduksi tidak melebihi 2.000 porsi dalam sekali pendistribusian.
Sebab, rata-rata produksi dapur SPPG di Bontang saat ini disebut telah mencapai lebih dari 2.200 porsi.
Menurut Neni, pembatasan jumlah porsi penting untuk menekan risiko kontaminasi makanan selama proses pengolahan hingga pendistribusian.
"Kemudian ompreng yang dipakai juga harus disterilkan. Kemarin kan hasil uji sampling menunjukkan adanya bakteri yang muncul. Itu menyebabkan mual dan muntah bagi siswa atau guru," sambungnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot Bontang menginisiasi rapat koordinasi dan evaluasi bersama SPPG Regional Kaltim pada Selasa (11/8/2026).
Pemkot juga mengundang para mitra pengelola dapur MBG untuk membahas persoalan tersebut, termasuk evaluasi proses pengolahan dan pendistribusian makanan.
Sebelumnya, hasil uji laboratorium Dinkes Bontang mengungkap adanya kontaminasi bakteri patogen pada menu MBG yang dikonsumsi siswa, guru, dan wali murid.
Temuan tersebut berasal dari sampel ayam serundeng dan gulai sayur yang disajikan SPPG Bontang Utara 2. Sebanyak 27 orang dilaporkan mengalami mual dan muntah setelah menyantap menu tersebut.
Kepala Dinkes Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, pemeriksaan laboratorium memastikan adanya bakteri patogen dalam sampel makanan.
Dinkes masih mendalami titik kontaminasi makanan tersebut. Dugaan sementara, kontaminasi dapat terjadi saat proses penyajian makanan ke dalam ompreng maupun ketika makanan didinginkan menggunakan kipas angin.
"Hasil ini sudah diuji secara klinis. Kemudian tersaji kalau sampling itu terkontaminasi bakteri patogen," ucap Toetoek.
Selain temuan bakteri, Dinkes juga menemukan adanya modifikasi menu di SPPG Bontang Utara 2. Santan dalam menu diganti menggunakan kemiri.
Toetoek menyebut, penggunaan kemiri juga berpotensi memicu mual dan muntah pada orang tertentu, terutama yang memiliki alergi terhadap bahan tersebut.
"Di sebagian orang, kemiri memang berpotensi juga menyebabkan mual dan muntah. Apalagi ada alerginya," pungkasnya.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: