Uji Lab Ungkap Penyebab Ikan Mati Massal di Loktuan-Tanjung Limau, karena Faktor Alam
Konferensi pers hasil uji sampling air laut yang menyebabkan ikan di Loktuan dan Tanjung Limau mati massal pada Minggu (8/11/2026) (Klik Kaltim).
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang merilis hasil uji sampling kualitas air yang diduga menyebabkan ikan di dua lokasi, yakni Kelurahan Loktuan dan Keramba Jaring Apung Tanjung Limau, mati massal.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang, Syamsu Wardi, mengatakan pencemaran yang terjadi bersifat alamiah, bukan disebabkan faktor industri.
Dari data yang disampaikan, pencemaran disebabkan kondisi air konda atau tidak bergerak. Kondisi tersebut rupanya menyebabkan partikel alami yang seharusnya terurai justru tertahan di dalam air.
Sampling yang diambil pada Rabu (3/11) lalu menunjukkan kandungan nitrat dan nitrit mencapai 11,3 miligram per liter. Angka tersebut jauh di atas batas normal, yakni hanya 0,05 miligram per liter.
Minimnya oksigen menyebabkan makhluk hidup didalam air berebut. Didalam air juga terdapat Fitoplankton yang membutuhkan oksigen besar untuk berkembang biak. Begitu juga dengan ikan.
Faktanya, ikan memiliki kecenderungan kalah cepat menyerap oksigen ketimbang Fitoplankton. Hal itu teruji pasca tim DKP3 melakukan injeksi oksigen menggunakan Alkon. Dengna memompa air agar cepat tersuling.
"Kami uji coba dengan injeksi oksigen. Ikan yang sempat mabuk akhirnya berangsur-angsur membaik. Tetapi biaya memberatkan nelayan. Intinya kedua mahkluk hidup laut saling berebut oksigen," terang Syamsu Wardi.
Lebih lanjut, Penyebab utamanya diduga karena saat itu terjadi hujan deras, sementara kondisi air laut sedang konda sehingga air hujan tertahan dalam waktu cukup lama.
Sementara itu, hasil sampling internal DKP3 menunjukkan sejumlah parameter lainnya masih dalam kondisi normal. Misalnya, pH air di dua lokasi berada pada angka 7,8-7,9. Berdasarkan alat uji, tingkat keasaman air tersebut masih dalam kondisi normal.
Kemudian, tingkat kecerahan air tercatat berada pada angka 35 sentimeter. Dalam kondisi normal, cahaya dapat menembus air mulai dari 50 sentimeter hingga di atas 60 sentimeter.
"Kadar oksigen di bawah permukaan yang tipis menyebabkan ikan mabuk hingga mati. Penyebabnya karena air konda dan pencemaran secara alami," ungkapnya.
Diketahui, DKP3 Bontang menilai hasil uji sampling ini perlu diinformasikan kepada para nelayan. Secara tugas dan fungsi, penanganan masalah tersebut seharusnya menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Sebab, berdasarkan aturan, wilayah laut 0-12 mil berada di bawah kewenangan provinsi.
Hingga saat ini, informasi yang diterima awak media menyebutkan tim dari Provinsi Kaltim belum turun ke lapangan pascalaporan nelayan masuk. Pengecekan sementara dilakukan secara internal oleh Pemkot Bontang sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat.
"Kewenangan di provinsi. Kami ini menindaklanjuti keluhan warga saja. Jadi, hasil sampling ini ditujukan kepada warga Bontang dan nelayan," sambungnya.
Ikan Layak Dikonsumsi
DKP3 Bontang memastikan ikan yang mati massal di keramba nelayan masih layak dikonsumsi. Hal itu disimpulkan setelah tim melakukan pemeriksaan fisik terhadap ikan.
Saat pemeriksaan, insang ikan terlihat normal tanpa bercak ataupun lendir yang mengindikasikan paparan logam berat. Kondisi mata ikan yang berkabut disebut murni hanya menurunkan kualitas kesegaran ikan.
Perbedaan ikan yang terkontaminasi logam berat dan yang tidak, menurutnya, dapat terlihat secara fisik. Ikan yang mati akibat pencemaran logam berat cenderung memiliki banyak bercak dan lebih mudah membusuk.
Kendati demikian DKP3 akan melakukan uji laboratorium secara spesifik terkait ikan yang mati tersebut. Saat ini DKP3 masih berfokus pada penanganan penyebab ikan mabuk dan akhirnya mati.
"Layak konsumsi. Karena itu murni mati akibat rendahnya oksigen di dalam permukaan. Gejala ikan mati juga tidak langsung massal," sambungnya. (*)
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: