•   23 September 2026 -

PT. Borneo Pariwara Mandiri

Jl. Mulawarman, Gang Arumbia 1, Kelurahan Bontang Baru,
Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Kaltim - 75311

BPBD Sebut Kabut Asap yang Sempat Selimuti Kaltim karena Turun dari Atmosfer; Masih Berpotensi Terulang

Kaltim - Redaksi
22 September 2026
 
BPBD Sebut Kabut Asap yang Sempat Selimuti Kaltim karena Turun dari Atmosfer; Masih Berpotensi Terulang Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan saat menggelar jumpa pers, Selasa (22/9/2026).

SAMARINDA - Kabut asap yang sempat menyelimuti wilayah Kalimantan Timru  beberapa hari lalu bukan disebabkan munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baru.

BPBD Kaltim menyebut kondisi itu dipengaruhi asap hasil kebakaran yang masih bertahan di atmosfer dan kemudian turun ke permukaan.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan menjelaskan, asap dari kebakaran yang terjadi sebelumnya belum sepenuhnya hilang. Asap tersebut berada pada lapisan tertentu di atmosfer dan dapat kembali turun ketika kondisi cuaca mendukung.

"Bukan karena pada saat itu kebakaran yang ada di wilayah Samarinda atau sekitar situ, tapi akibat turunnya asap yang ada di atmosfer," jelasnya Buyung dalam agenda Press Release Penanganan Karhutla dan Kekeringan Prov. Kaltim Tahun 2026, Selasa (22/9/2026) Siang.

Kondisi tertutupnya awan menyelimuti wilayah Kalimantan yang terjadi sekitar 15 sampai 19 September lalu, telah menyebabkan proses inversi sehingga sinar matahari terhalang dan asap yang berada di atmosfer turun mendekati permukaan.

Fenomena serupa juga berdampak di sejumlah wilayah lain, seperti Kutai Kartanegara, Paser, Kutai Barat, Mahakam Ulu, Balikpapan dan Kutai Timur dan Bontang. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang di sejumlah lokasi menurun, bahkan pernah kurang dari 500 meter.

"Pada saat itu asap akan turun ke bawah sehingga beberapa hari kemarin kelihatan seperti sangat pekat," ujarnya.

Buyung mengatakan, ketika tutupan awan kembali terbuka, sinar matahari dapat membuat asap naik kembali ke atmosfer. Hal itu membuat kondisi udara tampak membaik, meski bukan berarti asap telah hilang sepenuhnya.

Asap tersebut, lanjut dia, masih berada di atmosfer dan berpotensi kembali turun ketika kondisi cuaca memungkinkan. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan kualitas udara, terutama pada pagi hari.

Kondisi asap juga sempat mengganggu aktivitas masyarakat. Selain menurunkan jarak pandang, kabut asap disebut berdampak terhadap penerbangan hingga kegiatan pendidikan.

"Untuk menghilangkan asap yang ada di atmosfer tadi perlu hujan yang masif dan tidak cukup dalam satu hari," jelasnya.

Di sisi lain, kondisi karhutla Kaltim hingga 21 September tercatat mencapai sekitar 1.470 titik dengan luas lahan terbakar 6.333 hektare. BPBD menyebut sebagian besar lahan terbakar berada di luar kawasan hutan.

"Kondisi kemarau El Nino ini menyebabkan terjadinya kekeringan ekstrem. Jadi vegetasi di bawah ini sangat kering hingga sangat mudah terbakar. Efek dari pada kekeringan itu akan muncul gampangnya atau mudahnya terbakarnya lahan," pungkasnya






TINGGALKAN KOMENTAR